Kali ini emak mau ngomongin khusus tentang khodimah a.k.a Asisten Rumah Tangga (ART) nih. Yup, buat emak2 pekerja pastinya keberadaan khodimah itu sangatlah penting. Buat emak pribadi nih, hubungan emak dan khodimah itu bukan sekedar hubungan antara majikan dan pembantu. So, emak selalu berusaha untuk memanusiakan mba2 yang bekerja di rumah kami. Akan tetapi, berdasarkan pengalaman yang sudah emak alami nih, khodimah itu suka datang dan pergi sesuka hati tanpa mikir kondisi majikannya.
Kalo ditanya lama kerjanya ART yang pernah bantuin emak buat beres - beres rumah dan/atau nemenin anak - anak, jawabnya bikin pengen ketawa. Ada mba yang cuma betah 1 hari, ada yang 3 minggu, 1 bulan, 4 bulan bahkan ada yang sampai 7,5 tahun. Latar belakang pendidikannya juga beda - beda, ada yang cuma lulus SD, lulus SMP sampai ada yang pernah mondok di pesantren. Pengalaman kerja pun beda - beda, ada yang memang baru pertama kali kerja, ada yang udah kerja di beberapa tempat bahkan ada yang pernah kerja di luar negeri. Rentang usia khodimah yang pernah kerja di tempat kami dari yang masih umur belasan tahun sampai umur 40 tahunan.
Ketika anak - anak masih kecil, emak berusaha untuk mempertahankan khodimat yang sudah terbiasa menemani anak - anak. Alhamdulillah bisa tahan sampai 7,5 tahun. Efek negatif dari mempertahankan itu adalah kami selalu menutup mata atas segala kekurangannya, yang penting anak - anak aman dan nyaman. Setelah budhe yang sudah 7,5 tahun menemani anak - anak minta ijin pulang selamanya, mas bojo langsung mencari ART baru. Kami menggunakan jasa yayasan penyalur ART untuk mencari Asisten Rumah Tangga (ART).
Jasa penyalur ART yang kami hubungi berlokasi di Bekasi. Dari bulan Mei 2020 s.d. April 2021 kami menggunakan Jasa penyalur ART tersebut. Awalnya kami berpikir dengan menggunakan jasa yayasan penyalur ART itu, kami akan mendapatkan ART yang profesional, terlatih, siap kerja dan awet. Ternyata tidak semudah itu pemirsaaaa...hahahaa.. Kali ini emak mau sedikit berbagi cerita tentang per-mba-an yang kami dapat dari jasa penyalur ART.
- Mba A, masa kerja 1 bulan
Ketika kita memutuskan untuk menggunakan jasa penyalur ART, maka kita harus siap dengan biaya administrasi dan biaya transportasi untuk bisa membawa pulang ART. Pada bulan Mei 2020, rincian biaya yang harus kami keluarkan adalah :
- Biaya Admin reguler = 2 juta
- Biaya Admin Infal = 750 ribu (harus bayar ini karena 5 hari sebelum dan sesudah hari raya Idul Fitri dihitung infal)
- Biaya Transportasi = 300 ribu
- Gaji Infal ART selama 10 hari = 2,5 juta
- Gaji 1 bulan = 2,5 juta (karena cuma kerja sebulan dan dipotong infal 10 hari, saya cuma bayar proporsional 18 hari kerja)
- Uang cuti 2 hari kerja = 250 ribu
Fyi, dengan membayar biaya Admin, kita punya hak mendapat 2 kali ganti ART dalam 3 bulan. ART punya hak cuti 2 hari dalam sebulan. Jika ART tidak menggunakan haknya maka kita wajib membayar uang cuti sebesar 125 ribu per hari. Mba A ini ngga bisa masak dan selama sebulan kami pesenin catering untuk makan siang dan sore donk gaes (kurang baek apa coba). Sebenarnya kami sudah cocok dengan mba A, Qadarullah, Ibunya mba A sakit. Mba A hanya mau ijin 10 hari tapi kan emak ngga bisa 10 hari tanpa ART dan aturan yayasan pun tidak mengijinkan ART libur 10 hari, so emak minta ganti ke yayasan donk.
2. Mba B, masa kerja 3 minggu
Dengen permintaan ijin 10 hari yang tidak bisa kami setujui, yayasan mengganti ART baru. Dalam pergantian ini, kami tidak dikenai biaya apapun, karena masih masa garansi. Untuk gaji masih sama dengan ART sebelumnya. Gaji sebulan 2,5 juta ditambah dengan uang cuti 250 ribu. Sama seperti mba A, kamipun sudah cocok dengan mba B (masakannya enak). Qadarullah, anaknya sakit dan mba B tidak diijinkan suaminya bekerja. Kerja selama 3 minggu, gaji yang kami bayarkan pun proporsional hanya 3 minggu ya. Ganti lagi ya gaes..
3. Mba C, masa kerja kurang dari 24 jam
Setelah mba B minta ijin pulang, yayasan mengganti ART lagi. Entah kenapa, kali ini pun kami kurang beruntung. Baru nyampe rumah jam 2 siang dan belum sempet saya menjelaskan detail pekerjaannya eh keesokan harinya jam 9 pagi sudah minta pulang dengan alasan tidak suka kalo ada anak - anak di rumah. Dia maunya hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja dan setelah itu istirahat. Padahal sebelum datang ke rumah, saya sudah memastikan bahwa petugas yayasan sudah menjelaskan kondisi rumah serta pekerjaan yang harus dikerjakan.
4. Mba D, masa kerja 4 bulan
Terjadi pergantian pemain lagi ya gaes. Mba D ini pernah beberapa tahun kerja di Taiwan dan Timur Tengah gaes. Kualitas dan etos kerja bisa dibilang lumayan OK dan kamipun cocok dengan pekerjaannya. Gaji mba D ini 2,5 juta ditambah uang cuti 250 ribu. Saking sudah merasa cocok dengan si mba, kami liburan ke Cirebon (homebase nya si mba) dan si mba kami persilahkan libur 2 hari untuk bisa nengok anaknya tanpa kami potong uang cutinya (emak baik kan...hahahaha). Menjelang 4 bulan, si mba minta ijin pulang 9 hari dengan alasan kangen sama anaknya. Kami pun mengijinkan karena kami masih bisa mengatur jadwal WFH dan WFO. 2 hari menjelang batas waktu ijin habis, kami sudah menanyakan dan memastikan si mba bakal balik ke rumah kami. Awalnya, si mba bilang ngga punya ongkos balik kemudian bilang tidak tahu terminal mana yang dituju. Dengan beberapa kali diskusi akhirnya kami kasih solusi dengan menawarkan transferan ongkos balik dan menjemput di terminal manapun di Jakarta (kurang baek apa coba gaes). Tapi, apa yang terjadi pemirsa, si mba minta nambah 1 hari lagi karena mau ambil jatah BLT dari pemerintah. Jelas donk kami nolak karena si mba minta nambah ijin pas di hari senin dimana hari tersebut merupakan hari pertama saya dan mas bojo penempatan di kantor baru. Say good bye lagi dengan ART.
5. Mba E, masa kerja 3 bulan
Dengan menolaknya permintaan dari mba D itu berarti kami harus segera nyari penggantinya donk. Berhubung sudah melewati masa garansi dari yayasan, maka kami harus bayar biaya admin lagi donk...hahhaha. Biaya admin 2 juta (masa garansi 4 bulan ) dan biaya transportasi 400 ribu (lumayan ya gaes). Mba E ini juga lulusan luar negeri, beberapa tahun bekerja di Timur Tengah dan Brunei (mantaab kan). Gaji mba E itu 2.350.000 plus uang cuti 250 ribu. Kalo lulusan luar negeri tuh kualitas dan etos kerjanya bisa dibilang setingkat lebih tinggi. Kami pun sudah sangat cocok. Tapi sayangnya, baru 3 bulan kerja mba E minta ijin pulang karena pengen nyoba peruntungan lagi ke Singapura. Biar cepet ngumpulin uang katanya..ya sudahlah. Seperti biasa, saya ngga pernah nahan orang yang pengen keluar.
6. Mba F, masa kerja 11 hari
Mba F ini cukup unik jam kerjanya. Pernah suatu hari habis sholat tahajud sekitar jam 00.40 mba F nyapu, ngepel, nyuci piring dan nyuci baju. Kalo habis kerja tengah malam, si mba tidur lagi sampe jam 05.15. Sementara saya jam 04.30 udah klutak klutik di dapur dan si mba ngga bangun donk. Pagi pagi saya jumpalitan sendiri. Biasanya yang minta pulang itu para ART duluan. Untuk episode ini, saya yang minta ganti karena beberapa kebiasaan unik bin aneh si mba, keseringan maen hape, sudah dikasih tahu to do list nya tapi sepertinya lebih sesuka hati dia dan ada beberapa sikap yang menurut kami tidak cocok dan tidak bisa kami terima. Gaji tetap sama dengan mba E sebesar 2.350.000, dihitung proporsional 11 hari kerja.
7. Mba G, masa kerja 2 bulan
Nah ini ART terakhir yang kami ambil dari yayasan. Karena masih masa garansi, emak cuma dikenai biaya transportasi 200rb. Menurut pengakuan sih, mba G sudah pernah kerja sebagai ART selama 2 tahun. Tapi, selama disini semua pekerjaan harus diajarin kayak orang yang ngga pernah kerja. Walopun begitu, emak tetap dengan senang hati ngajarin donk. Eh iya, karena masih junior dan belum banyak pengalaman, emak minta penurunan gaji untuk mba G ini. Gajinya 2.250.000 + uang cuti 250 ribu. Sekitar 2 minggu setelah mba G mulai kerja, kami pulang kampung selama 6 hari dan selama pulang kampung kami mengijinkan mba G untuk pulang ke rumah kakaknya dan hanya kami kurangi uang cuti 2 hari ( emak baek kan). Habis pulang kampung, semua berjalan aman - aman saja. Nah, habis gajian bulan pertama tiba - tiba mba G minta pulang. Kaget donk? ado apo ini. Setelah diajak diskusi, si mba menyampaikan beberapa alasan :
- Harus bangun pagi. Menurut mba G bangun jam 04.30 itu terlalu pagi. Padahal dari awal interview dia sudah setuju dengan kesepakatan bangun jam segitu. Emak pun jam segitu juga sudah mulai masak karena mba G hanya bisa masak beberapa menu saja. Hasil dari diskusi itu, kami mengijinkan bangun jam 05.00 donk (kurang baek apa coba)
- Cucian piringnya banyak. whaaatttt???? di rumah cuma ada 5 orang terus ngeluh cucian piringnya banyak. Mosok harus pake daun pisang kalo makan. #mulai ngga logis
- Capek naik turun tangga. Padahal naik turun tangga cuma untuk nyuci dan jemur baju doank. Mosok mesin cuciku tak taruh di teras sih mba.
Emak pasrah dan merasa capek. Emak mau off dulu nyari ART dari jasa penyalur. Emak mulai nyari ART dari link teman - teman buat persiapan ganti mba G. Ketika emak udah mau janjian dengan mba yang baru eh mba G bilang kalo ngga jadi minta pulang. Hadeeeeh...baiklah kita pertahanin dulu mba G walopun dengan banyak drama. Sebulan kemudian mba G minta pulang lagi dengan alasan sakit. Emak sudah malas drama ART, yasudahlah mba G dilepas sajo dan sejak saat itu kami memutuskan untuk tidak menggunakan jasa penyalur untuk mencari ART.
Apakah setelah tidak menggunakan jasa penyalur ART, drama ART berakhir? Tentu tidak. Bedanya kalo tidak menggunakan jasa penyalur ART, emak bisa hemat biaya admin. Lumayan kan gaes. Buat apa ngeluarin biaya admin kalo hampir tiap bulan emak selalu dapat kejutan kalimat "Bu, saya pengen pulang", "Bu, saya belum bisa balik kesana". Dulu, sempet mikir kok ada orang yang sering berganti - ganti ART sih. Apa tuntutan ke ART nya banyak, apa majikannya terlalu galak ke ART. Ternyata saya juga mengalami fase berganti - ganti ART lho padahal saya termasuk santuy kalo masalah kerjaan rumah. Saya selalu bilang "yang penting anak - anak dijagain dengan baik". Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja ART, misalnya suami/orang tua/ anaknya sakit, penyakit bawaan ART yang tidak dibicarakan dari awal (tiba - tiba ngeluh sakit). Setelah mengalami beberapa pergantian khodimah, saya bisa ambil kesimpulan bahwa seberapa lamapun ART kerja di rumah kita, kalo ART sudah pengen pulang ya ngga bisa dicegah. Bak gayung bersambut, emak juga ngga suka mencegah kalo ART pengen pulang karena kalo dilarang pulang maka kerjanya ngga akan fokus dan yang akan jadi korban adalah anak - anak. BIG NO. Anak - anak sekarang udah jauh lebih mandiri. Mereka bahkan meminta untuk tidak perlu menggunakan ART lagi. Mereka siap untuk membantu pekerjaan rumah. Emak terharu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar